Facebook

https://www.facebook.com/profile.php?id=100003312817274
Showing posts with label Lokomotif. Show all posts
Showing posts with label Lokomotif. Show all posts

Thursday, 5 May 2016

The History of Pasar Senen Station



Pasar Senen station is located on Jl. Pasar Senen, Central Jakarta. This station also serves as an inter-city train in Java. Senen Station was built in 1924 and inaugurated on March 19, 1925.
The station was designed by Ir. J. Van Gendt and was formerly owned by Batavia Ooster Spoorweg Mij (BOS) and Staats Spoorwegen (SS). The station was originally a small shelter belonging BOS to support transportation in Senen market that was built in 1733 and includes stations that passed the first electric railway line.
Pasar_Senen_IMG_20160312_125131.Pasar-Senen_IMG_20160312_125910

A Brief Note on Wijayakusuma and Rail One

Wijayakusuma Inspection Railways Train: An Introduction

Wijayakusuma Railways Train is a Rail Diesel is used as a inspection train or called as KAIS. This train is used by Board of Directors of PT KAI or VVIP’s guest of PT KAI for for inspection..
This train was used as commuter train along the Bogor – Sukabumi route. In 1980, the Wijayakusuma train brought to PT INKA to be modified as Inspection Train. This railways train officially used as Inspection Railways Train since 10 July 10 1982. Wijayakusuma train also have it’s own number with KD1-82201 or SI 3 82 01 THB.
At the end of May 30, 2007, the train was modified again by Manggarai Railways Workshop in order to be more elegant. Wijayakusuma train equipped with air-conditioning, Lounge, Meeting Room, generators, Mini Bar and Pantry.
This train is also used as an advance train in front of the Presidential Railways Train
Picture is taken from here
Rail One: The POTRI Railways Train
President of the Republic of Indonesia also has a special train named Rail One. Rail One rail is a Rail Diesel and used specifically for the Indonesian President. Others government officials may used this train as long as to conduct inspections or go to a specific area for government purposes. 
Rail_one
This train is also used as an advance train in front of the Presidential Railways Train
Picture is taken from here

Monday, 25 January 2016

Lokomotif Pertama Buatan Indonesia di Benteng Vredeburg



Meriam, patung prajurit, pagar tinggi dan tembok tebal, munkin biasa kita jumpai di halaman depan saat pertama kali melihat sebuah benteng. Namun di Yogyakarta, ada pemandangan unik yang tidak biasa kita lihat di halaman depan sebuah benteng, yaitu sebuah lokomotif. Sejak bulan Mei 2015 Yogyakarta memiliki ikon sejarah dan wisata baru di halaman depan Benteng Vredeburg. Ikon tersebut bukanlah bangunan, melainkan sebuah lokomotif diesel tua berwarna kuning, hijau dan merah. Lokomotif itu bernama Bima Kunting 3.


Sejarah Bima Kunting 3
Bima Kunting adalah lokomotif pertama yang diproduksi oleh Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) melalui Balai Yasa Yogyakarta. Terdapat 3 unit Bima Kunting yang mulai dibuat tahun 1960 dan dioperasikan sampai tahun 1980-an.  Selain Bima Kunting 3, dua lokomotif lainnya adalah Bima Kunting 1 yang saat ini berada di Taman Lalu Lintas Bandung dan Bima Kunting 2 yang belum diketahui keberadaannya. Nama Bima Kunting diberikan oleh Sultan Hamengkubowono IX yang terinspirasi dari tokoh pewayangan Raden Setyaki (Bimo Kunthing), yakni ksatriya berbadan kecil namun memiliki kekuatan yang besar. Lokomotif Bima Kunting 3 memang berukuran tidak terlalu besar. Diciptakan tahun 1965, Bima Kunting 3 dapat melaju dengan kecepatan maksimum 45 km/jam. Pembuatan Bima Kunting 3 dilakukan di bawah pimpinan Ir. Mardjono. Bima Kunting 3 difungsikan sebagai lokomotif langsir di Balai Karya Kereta Api Yogyakarta.  Dengan kata lain Bima Kunting 3 digunakan ntuk memindahkan lokomotif lainnya yang sedang menjalani proses perawatan. Pada tahun 1980 Bima Kunting 3 terpaksa mengakhiri “tugas” karena ketiadaan suku cadang. Bima Kunting 3 pun terbengkalai dan tak terawat selama bertahun-tahun di halaman Balai Yasa. Keberadaanya sempat luput dari perhatian seiring kondisinya yang semakin memprihatinkan. Besi rangka penyusun tubuhnya rusak dan berkarat tertutup semak dan tumbuhan merambat.



Proses Konservasi Bima Kunting
Pada tahun 2007 proses konservasi Bima Kunting 3 dimulai. Keberadaannya kembali ditelusuri dan berhasil ditemukan. Bima Kunting 3 kemudian dipindahkan ke bengkel Balai Yasa.  Proses konservasi berlanjut di tahun 2011 dengan menelusuri sejumlah data masa lalu Bima Kunting 3. Pada tahun 2014 proses besar-besaran untuk “membangkitkan” Bima Kunting 3 dilakukan. Komponen luar dan dalam yang telah rusak satu persatu diperbaiki dan diganti.  Tubuh lokomotif termasuk rangka bagian atas dan bawah ditata kembali. Bima Kunting 3 pun dicat ulang dengan warna hijau, kuning dan merah. Penentuan warna didasarkan pada informasi saksi sejarah di masa awal Bima Kunting  3 beroperasi. Proses Konservasi Bima Kunting 3 selesai pada 31 Desember 2014. Pada tanggal 29 Januari 2015 tengah malam Bima Kunting 3 dipindahkan ke halaman Benteng Vredeburg. Saat itu fasadnya belum bisa disaksikan masyarakat umum karena masih dibungkus tirai dan menunggu kesiapan ruang pamer terbuka. Kini “Bima Kunting 3” bisa disaksikan dari dekat oleh siapapun. Dinaungi pepohonan rindang dan diletakkan di seberang Istana Negara Gedung Agung, Bima Kunting 3 menarik perhatian masyarakat dan wisatawan yang melintasi kawasan Malioboro.

Bima Kunting 3 tak hanya bersejarah bagi Yogyakarta

Lokomotif legendaris ini juga bermakna penting bagi bangsa Indonesia. Bima Kunting 3 dan dua saudaranya adalah hasil rekayasa teknologi yang membanggakan dan menjadi pencapaian berharga dalam ilmu pengetahuan perkeretaapian Indonesia. Lokomotif ini adalah bukti keterampilan dan keahlian anak bangsa dalam melakukan perakitan dan pengembangan teknologi lokomotif pada masa itu. Setelah eranya berlalu Bima Kunting dapat menjadi acuan dan media pembelajaran bagi rekayasa teknologi perkeretapian. Selain itu Bima Kunting 3 juga telah memberikan pengaruh yang besar dalam perkembangan bentuk, gaya dan desain lokomotif kereta api di Indonesia. Atas dasar nilai penting dan manfaat berharga di atas, pada tahun 2014 Bima Kunting 3 ditetapkan sebagai Benda Warisan Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tuesday, 19 January 2016

Lokomotif CC300



LOKOMOTIF CC300
Lokomotif CC300
Lokomotif CC 300 01 saat sedang test run.
Sumber tenaga:
Diesel hidraulik
Perusahaan pembuat:PT Industri Kereta Api (Persero)
Model:INKA CC 300
Tanggal dibuat:2012-2014
Data teknis
Roda
Susunan roda AAR:C-C
Klasifikasi UIC:Co'Co'
Dimensi
Lebar sepur:1.067 mm
Panjang:14.135 mm
Lebar:2.642 mm
Tinggi (maksimum):3.575 mm
Berat
Berat kosong:84 ton
Bahan bakar dan kapasitas
Jenis bahan bakar:High-Speed Diesel
Kapasitas bahan bakar:3.800 liter
Mesin, motor traksi, dan converter
Penggerak utama:Caterpillar 3512B HD, V-12
Generator:Caterpillar C18
Transmisi dan kinerja
Transmisi:Voith Turbo Transmission L620reU2
Kecepatan maksimum:120 km/jam
Daya mesin:2.500 hp
Gaya traksi:270 kN
Lain-lain
Rem lokomotif:Pneumatic brake, rem udara tekan
Informasi kepemilikan dan karier
Perusahaan pemilik:Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan
Pertama dinasTest run tahun 2012
2013-saat ini (khusus untuk dinas Ditjen Perkeretaapian)
Catatan kaki: 
Lokomotif CC 300 adalah salah satu lokomotif diesel hidraulik di Indonesia milik Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubunganyang digunakan khusus untuk keperluan dinas Ditjen Perkeretaapian. Lokomotif dengan dua kabin masinis ini dibuat oleh PT INKA. Desain dan integrasi sistemnya murni hasil pemikiran insinyur Indonesia. Akan tetapi, meskipun milik Ditjen Perkeretaapian, namun loko ini tetap dioperasikan olehPT KAI.
Lokomotif CC 300 saat menjalanitest run.
Bagian ujung lokomotif CC 300.
Lokomotif ini mempunyai panjang 14.135 mm, lebar 2.642 mm, tinggi 3.575 mm, dan berat 84 ton.[1] Kecepatan maksimalnya adalah 120 km/jam, daya mesinnya adalah 2500 hp dan memiliki gaya traksi sebesar 270 kN untuk starting (saat lokomotif mulai bergerak dari keadaan berhenti total). Mesinnya memakai mesin diesel Caterpillar tipe 3512B HD (Caterpillar Seri 3500, konfigurasi V-12 (kode angka 12 pada 3512), long stroke (kode B), diameter silinder x langkah silinder = 170 mm × 215 mm, perbandingan kompresi = 15,5:1) dengan transmisi hidraulik Voith Turbo Transmission L620reU2. Sistem pengereman memakai produk Westinghouse Air Brake Technologies (Wabtec), master controller memakai produk Woojin dari Korea Selatan, juga dilengkapi dengan generator set (genset) CAT C18 dari Caterpilar sehingga tidak memerlukan kereta pembangkit jika menarik rangkaian kereta penumpang.
Saat ini sudah ada 7 unit lokomotif CC 300 (CC 300 12 01, CC 300 12 02, CC 300 12 03, CC 300 13 01, CC 300 13 02, CC 300 14 01, CC 300 14 02) yang dibuat oleh PT Inka dan sedang menjalani test run di pabrik PT INKA. Direncanakan lokomotif ini akan ditempatkan di beberapa dipo lokomotif yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Menurut Agus Purnomo, Direktur Utama Inka, lokomotif ini cukup handal karena tahan banjir. Ia juga mengatakan bahwa proyek CC 300 adalah bekerjasama dengan Kemenhub, maka ada beban biaya pengembangan yang ditanggung oleh Inka. Sebesar Rp30 miliar rupiah dari Pemerintah Indonesia (PT INKA ikut membayar juga) telah dibayarkan untuk mengembangkan proyek lokomotif made in Indonesia itu. meskipun ketinggian banjir mencapai 1 meter, KA yang ditariknya masih bisa melaju. Sesungguhnya pengembangan lokomotif Inka itu sejak 2009, dan tidak menutup kemungkinan jika loko ini akan segera diekspor ke seluruh dunia, terutama bagi negara yang lintas KA-nya memiliki persoalan banjir.[3]
Lokomotif CC 300 diluncurkan pada tanggal 20 Mei 2013 bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional.[4]

Lokomotif CC206


LOKOMOTIF CC206
Lokomotif CC206
CC 206 13 31 milik Dipo Induk Yogyakarta menarikkereta api Argo Dwipangga di Stasiun Purwokerto

Lokomotif CC 206 adalah lokomotif diesel elektrik terbaru milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) buatan General Electric Transportation, Amerika Serikat. Lokomotif ini memiliki 2 bogie dengan konfigurasi C-C (Co'Co'), yaitu 3 buah roda penggerak di setiap bogie-nya. Perbedaan dengan lokomotif diesel elektrik GE lainnya dengan jenis yang sama adalah lokomotif ini memiliki 2 kabin masinis di ujung muka dan belakang seperti halnya lokomotif di Eropa pada umumnya. Lokomotif CC 206 diperuntukkan untuk angkutan barang dan penumpang di Pulau Jawa dan akan didatangkan juga keSumatera Selatan pada tahun 2016. Lokomotif CC 206 lebih canggih dibandingkan lokomotif GE sebelumnya, dengan tenaga lebih besar dan tingkat emisi gas buang lebih rendah. Mengingat berat lokomotif ini 90 ton dengan beban gandar sebesar 15 ton, maka jalur rel di Jawa juga disesuaikan untuk mengakomodir lokomotif ini.

Sejarah kedatangan CC 206

Awal mula lokomotif berkabin ganda dapat dilacak dari keberadaan lokomotif-lokomotif yang sudah berumur seperti CC 200, BB 301, BB 304, dan BB 305 CFD. Namun, semua lokomotif itu sudah berumur lebih dari 30-40 tahun dan banyak dilakukan pengafkiran/perucatan terhadap lokomotif itu (apalagi CC 200 sudah berumur di atas 60 tahun dan seluruh BB 305 telah dirucat). Lokomotif berkabin ganda tersebut didesain agar tidak perlu diputar di pemutar rel (turntable) sebelum beroperasi menarik rangkaian kereta.
Pada dekade 2000-2010-an, ide muncul dalam diri perusahaan PT KAI, bagaimana jika PT KAI memiliki lokomotif yang kuat, berkabin ganda, dan dilengkapi teknologi komputer semacam GE BrightStar™ Sirius yang sebelumnya ada pada lokomotif CC 204, juga memiliki layar display canggih karena meskipun telah terkomputerisasi, CC 204 belum memiliki layar display seperti CC 206. Selain itu, dengan berkabin ganda, lokomotif itu tidak perlu lagi diputar di atas pemutar rel.
Pengadaan CC 204 selama beberapa tahun terakhir juga kurang efisien, karena per tahunnya hanya sedikit lokomotif diproduksi tetapi kebutuhan lokomotif cukup banyak. Akhirnya, ide pemesanan lokomotif CC 206 ke General Electric muncul pada tahun 2010 untuk menambah jajaran armada PT KAI dan akan digunakan untuk angkutan barang di Pulau Jawa. Juga pemesanan lokomotif kali ini tidak sedikit-sedikit seperti CC 204, melainkan dengan jumlah banyak, menjadi rekor pemesanan lokomotif terbanyak PT KAI karena pengadaan lokomotif kali ini mendatangkan 100 unit dalam 1 tahun saja meskipun datang dalam beberapa batch, tidak seperti CC 204 yang butuh waktu lebih dari 5 tahun sampai ke 37 unit lokomotif tersebut selesai diproduksi.
Untuk mewujudkan hal tersebut, pada tahun 2012 dipesanlah lokomotif CC 206 (CM20EMP) sebanyak 100 unit sekaligus ke General Electric Transportation tanpa bogie. Bogie dirakit oleh PT Barata Indonesia (Persero). Sesudah sampai di pelabuhan Tanjung Priok, loko-loko itu akan dibawa ke Balai Yasa Yogyakarta untuk pasang bogie sebelum kemudian beroperasi mulai tahun 2013. Mulai tahun 2015, lokomotif CC 206 akan didatangkan lagi dengan jumlah 50 unit [1] dengan rincian 30 unit turun di Pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 2015 dan 20 unit turun di Pelabuhan Panjang pada tahun 2016. Saat ini 15 unit lok CC206 generasi kedua telah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, dan sudah dibawa ke Balai Yasa Yogyakarta untuk pengetesan. Dengan tibanya lokomotif CC 206 generasi kedua, maka akan ada 150 unit CC 206, yang jumlahnya melebihi CC 201 (144 unit, 131 beroperasi, 7 dijadikan CC204, 6 rusak).

Desain, mesin, spesifikasi, perangkat elektronik, dan kelebihan

Desain bentuk lokomotif

CC 206 dibuat saat PT KAI membutuhkan lokomotif double cabin, maka GE membuat lokomotif double cabin ini dengan desain yang mirip beberapa lokomotif GE baik itu di Indonesia maupun bukan. Desain kepala dan body CC 206 sangat mirip dengan salah satu lokomotif GE yaitu British Rail Class 70 seri GE PowerHaul yang beroperasi di Britania Raya, tetapi CC 206 menggunakan 2 kaca depan, yang mengikuti lokomotif CC 203. Sedangkan lampu lokomotifnya masih mengikuti desain lok GE sebelumnya yang beroperasi di Indonesia. Bentuk pintu masuk kabinnya mirip dengan yang ada di CC 203.

Mesin, spesifikasi lokomotif, dan perangkat elektronik

Mesin lokomotif CC 206 adalah GE 7FDL-8 versi terbaru yang emisinya setingkat dengan emisi lokomotif Dash-9 di Amerika Serikat, dengan daya mesin sebesar 2250 hp, setara dengan tenaga keluaran lokomotif CC 202, dan 100 daya kuda lebih tinggi dari tenaga keluaran lokomotif CC 203(2150 hp). Sedangkan untuk perangkat elektroniknya menggunakan komputer GE BrightStar™ Sirius yang dipadukan dengan layar monitor GE Integrated Function Display™ (GE IFD) seperti yang ada di lokomotif Dash-9. Ini menjadikan CC 206 merupakan lokomotif dengan layar monitor komputer kendali kedua di Indonesia setelah CC 205, dan lokomotif GE pertama di Indonesia dengan teknologi layar display tersebut. Lokomotif ini juga menggunakan klakson yang berbeda dari lokomotif sebelumnya, yang membuat lokomotif ini dijuluki "Si Puong". Daya angkut lokomotif ini bisa mencapai 30 gerbong barang, dan 12 gerbong penumpang untuk satu lokomotif penarik.

Alokasi CC 206

Lokomotif CC 206 ditempatkan di hampir seluruh dipo induk lokomotif yang ada di Pulau Jawa untuk angkutan barang maupun penumpang. Di Jawa, hanya Dipo Induk Madiun dan Dipo Induk Jember yang tidak memiliki lokomotif CC206.
CC 206 mulai ditugaskan membawa KA penumpang terutama KA penumpang dengan rangkaian panjang dan KA penumpang yang di perjalanan harus memutar lokomotif untuk berbalik arah sejak dimutasinya lokomotif CC 204 generasi kedua ke Pulau Sumatera. Sebelumnya, CC 206 hanya berdinas sebagai lokomotif penarik KA barang saja. Saat ini lokomotif CC 206 dialokasikan untuk menarik semua jenis kereta, baik kelas eksekutif, bisnis, ekonomi jarak jauh bahkan lokal, maupun kereta barang, meskipun prioritas utama adalah menarik kereta barang, khususnya kereta rangkaian panjang dan kereta kelas eksekutif.
Kini, mayoritas lokomotif CC 206 berada di Dipo Lokomotif Sidotopo, Surabaya. Terdapat 34 lokomotif CC 206 di sana. CC 206 sebagian besar berada di Sidotopo karena depot ini memiliki banyak lok CC 201 generasi pertama yang (mungkin saja) akan pensiun, maka CC 206 didatangkan untuk menggantikannya.
Khusus untuk CC206 batch II mulai dari nomor CC206 15 12 sampai 39, akan dialokasikan di Dipo Kertapati, Palembang, yang berada di wilayah SubDivre 3.1 Sumatera Selatan, meskipun beberapa lokomotif yang telah tiba diuji terlebih dahulu di Jawa. Pengiriman lokomotif dari Jawa ke Lampung dimulai bulan Januari 2016, dengan 5 unit setiap pengiriman. Nomor CC206 15 40 sampai 50 yang belum tiba di Indonesia rencananya akan dialokasikan di Dipo Tanjung Karang, Bandar Lampung, yang berada di wilayah SubDivre 3.2 Lampung.
Berikut adalah daftar terbaru (sementara) mengenai alokasi lokomotif CC 206.
Depot indukLokomotif
Jatinegara (JNG)
= 22 unit
CC 206 13 60, CC 206 13 64, CC 206 13 70, CC 206 13 71, CC 206 13 72, CC 206 13 73, CC 206 13 74, CC 206 13 75, CC 206 13 76, CC 206 13 77, CC 206 13 78, CC 206 13 79, CC 206 13 81, CC 206 13 86, CC 206 13 87, CC 206 13 88, CC 206 13 89, CC 206 15 01, CC 206 15 02, CC 206 15 03, CC 206 15 04, CC 206 15 05
Bandung (BD)
= 13 unit
CC 206 13 02, CC 206 13 20, CC 206 13 21, CC 206 13 54, CC 206 13 55, CC 206 13 80, CC 206 13 82, CC 206 13 90, CC 206 13 94, CC 206 13 95, CC 206 13 96, CC 206 13 97, CC 206 13 98
Cirebon (CN)
= 8 unit
CC 206 13 03, CC 206 13 05, CC 206 13 33, CC 206 13 34, CC 206 13 56, CC 206 13 59, CC 206 13 68, CC 206 13 93
Semarang Poncol (SMC)
= 3 unit
CC 206 13 07, CC 206 13 65, CC 206 13 66
Purwokerto (PWT)
= 13 unit
CC 206 13 22, CC 206 13 23, CC 206 13 28, CC 206 13 43, CC 206 13 44, CC 206 13 57, CC 206 13 58, CC 206 13 61, CC 206 13 83, CC 206 13 91, CC 206 15 06, CC 206 15 07, CC 206 15 08
Yogyakarta (YK)
= 16 unit
CC 206 13 01, CC 206 13 04, CC 206 13 06, CC 206 13 26, CC 206 13 27, CC 206 13 30, CC 206 13 31, CC 206 13 62, CC 206 13 63, CC 206 13 67, CC 206 13 69, CC 206 13 84, CC 206 13 85, CC 206 13 92, CC 206 13 99, CC 206 13 100
Sidotopo (SDT)
= 36 unit
CC 206 13 08, CC 206 13 09, CC 206 13 10, CC 206 13 11, CC 206 13 12, CC 206 13 13, CC 206 13 14, CC 206 13 15, CC 206 13 16, CC 206 13 17, CC 206 13 18, CC 206 13 19, CC 206 13 24, CC 206 13 25, CC 206 13 29, CC 206 13 32, CC 206 13 35, CC 206 13 36, CC 206 13 37, CC 206 13 38, CC 206 13 39, CC 206 13 40, CC 206 13 41, CC 206 13 42, CC 206 13 45, CC 206 13 46, CC 206 13 47, CC 206 13 48, CC 206 13 49, CC 206 13 50, CC 206 13 51, CC 206 13 52, CC 206 13 53, CC 206 15 09, CC 206 15 10, CC 206 15 11
Kertapati (KPT)
= 28 unit
CC 206 15 12 s.d. CC 206 15 39
Rencana alokasi di Tanjung Karang (TNK)
= 11 unit
CC 206 15 40 s.d. CC 206 15 50
Keterangan
  • Seluruh lokomotif CC 206 saat ini sudah menggunakan logo PT KAI dan livery terbaru.
  • Seluruh lokomotif CC 206 menggunakan nomor sesuai Peraturan Menteri Perhubungan No. KM 45 tahun 2010.
  • Seluruh lokomotif CC 206 dipasangi terali besi berbentuk kotak-kotak pada kaca depan dan samping kabin masinisnya, dan mungkin akan dilepas saat masuk Perawatan Akhir di Balai Yasa Yogyakarta nanti.
  • Tulisan "Dipo Induk" pada lokomotif CC206 terletak di bawah logo PT KAI, kecuali CC 206 13 51, dengan berbagai font tiap depot induknya.
  • Seluruh lokomotif CC206 menggunakan bemper berwarna merah. Pada awal dinasnya bemper lokomotif CC206 berwarna hitam.
  • Lokomotif bernomor CC 206 13 87 dan CC 206 13 88 adalah lokomotif andalan kereta api luar biasa (KLB) khusus kepresidenan. Namun saat ini tugasnya digantikan oleh CC 206 13 71 dan CC 206 13 72.

Insiden

  • Pada tanggal 12 September 2013, terjadi kebakaran di permukiman penduduk, di Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Akibatnya, lokomotif CC 206 13 16 ikut terbakar. Dikisahkan, api berasal dari belakang rumah warga yang sedang memasak lalu ditinggal. Kemudian api berkobar menjilat sepeda motor Honda Supra yang terparkir 2 meter dari kompor. Api melahap seluruh dapur. Karena letak dapur berada 2 meter dari rel KA menuju Depo Pertamina, api pun ikut membakar lokomotif CC 206 13 16 yang langsir kereta api angkutan BBM Pertamina. Akibatnya, lokomotif hangus terbakar.]Seluruh korban mengalami luka di kaki dan muka.
  • Pada tanggal 4 April 2014, pukul 18.30 WIB, kereta api Malabar anjlok di km 224, Kampung Terung, RT 005 RW 009, Desa Mekarsari, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, yang disebabkan karena rel KA tergerus longsor. Akibatnya, dua gerbong eksekutif, K1 0 67 27 dan K1 0 67 22 beserta lokomotif CC 206 13 55 terperosok lalu keluar rel. Akibat beratnya medan, evakuasi lokomotif CC 206 13 55 terhambat.
  • Pada tanggal 4 Mei 2014, lokomotif CC 206 13 69 beserta gerbong pembangkit (P 0 08 01) yang menarik kereta api Bogowonto terguling setelah menabrak truk kontainer di Cirebon, Jawa Barat. Tidak ada korban jiwa, namun masinis dan beberapa penumpang terluka. Kejadian ini menyebabkan jadwal kereta terhambat dan evakuasi berjalan sulit karena bobot CC 206 yang berat.
  • Pada tanggal 9 Maret 2015, kereta api Argo Bromo Anggrek yang ditarik CC 206 13 68 menabrak sebuah truk pasir nopol G 1827 CC di Desa Ngasinan, Weleri, Kendal. Akibatnya, truk rusak parah dan sopir truk tewas seketika. 

Lokomotif CC 206 13 23 sedang menarik kereta api Argo Lawu, salah satu loko CC 206 yang mengalami kerusakan parah di kabin masinissetelah menabrak gerbong pengangkut pipa besar.
Muhamad Arie Prananda. Powered by Blogger.

Time

Pages

Pages - Menu

 

© 2013 Muhamad Arie Prananda. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top